Judul : Integrasi Transportasi Jadi Kunci Perkuat Konektivitas Antarpulau di Maluku
link : Integrasi Transportasi Jadi Kunci Perkuat Konektivitas Antarpulau di Maluku
Integrasi Transportasi Jadi Kunci Perkuat Konektivitas Antarpulau di Maluku
AMBON - BERITA MALUKU. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Maluku, Semmy Huwae, menegaskan pentingnya integrasi seluruh moda transportasi di Maluku untuk memperkuat konektivitas antarpulau dan menjawab kebutuhan masyarakat, terutama yang bermukim di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurut Huwae, pembangunan transportasi di Maluku tidak bisa dilakukan secara parsial dengan memisahkan pembahasan transportasi laut, udara, dan penyeberangan. Seluruh sektor terkait perlu duduk bersama untuk menyelaraskan perencanaan dan kebijakan agar konektivitas antarmoda dapat terwujud.
Hal itu disampaikan Huwae kepada wartawan usai mengikuti rapat kerja Komisi III DPRD Maluku bersama tiga mitra kerja yang membahas rute pelayaran di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD), Selasa (13/10/2026).
Ia mengungkapkan, salah satu hal yang perlu dibenahi adalah belum terselenggaranya rapat koordinasi perhubungan secara terintegrasi dengan melibatkan seluruh pemerintah kabupaten/kota dan pemangku kepentingan di sektor transportasi.
Pihak yang perlu dilibatkan, antara lain PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), Distrik Navigasi, serta PT ASDP Indonesia Ferry.
“Semua harus duduk bersama untuk menyelaraskan persepsi tentang bagaimana membangun pulau-pulau ini dalam semangat transportasi yang modern,” kata Huwae.
Ia menjelaskan, integrasi transportasi darat, laut, dan udara diperlukan agar perencanaan yang disusun tidak berjalan sendiri-sendiri. Dengan koordinasi lintas sektor, kebutuhan masyarakat di pulau-pulau yang selama ini sulit dijangkau dapat menjadi bagian dari perencanaan pembangunan transportasi.
Huwae mencontohkan, evaluasi terhadap layanan penerbangan perintis perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk melihat kemungkinan pengembangan akses menuju kawasan-kawasan yang belum terjangkau secara memadai.
Menurutnya, usulan pembangunan transportasi harus didasarkan pada data dan kebutuhan riil masyarakat, bukan semata-mata mengikuti kepentingan pemerintah.
“Jangan karena kepentingan pemerintah. Kehadiran kita untuk menjawab kegelisahan masyarakat,” ujarnya.
Terkait rute pelayaran, Huwae juga menekankan bahwa penetapan trayek kapal perintis, termasuk Kapal Sabuk Nusantara, harus memperhatikan aspirasi masyarakat. Usulan dari daerah, kata dia, perlu dibahas melalui forum diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) untuk mengklarifikasi kebutuhan dan rute yang diusulkan.
Setelah proses pembahasan dan finalisasi selesai, usulan tersebut akan diajukan ke pemerintah pusat untuk penetapan trayek perintis.
Huwae menjelaskan, trayek perintis tahun 2026 telah dibahas sebelum dirinya menjabat sebagai Kepala Dinas Perhubungan Maluku pada 20 Februari 2026.
Karena itu, ia kini berupaya agar penyusunan trayek 2027 dapat lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat, termasuk warga yang tinggal di wilayah 3T.
“Saya berikhtiar supaya Kapal Sabuk Nusantara menjadi kapal yang hadir untuk menenangkan warga. Jadi, warga di wilayah 3T juga harus bisa mendapatkan fasilitas Sabuk Nusantara,” katanya.
Ia menegaskan, keterpaduan kebijakan dan koordinasi antarlembaga menjadi hal penting agar masyarakat di wilayah terpencil tidak terus menghadapi keterbatasan akses transportasi.
“Jangan sampai ada ego sektoral yang kemudian memiskinkan atau menggelisahkan masyarakat kita. Mereka yang jauh tetap jauh, tidak bisa begitu. Wilayah yang jauh harus menjadi bagian dari upaya kita merangkai Maluku menjadi Indonesia yang berkualitas,” tutup Huwae.
Demikianlah Artikel Integrasi Transportasi Jadi Kunci Perkuat Konektivitas Antarpulau di Maluku
Anda sekarang membaca artikel Integrasi Transportasi Jadi Kunci Perkuat Konektivitas Antarpulau di Maluku dengan alamat link https://mukimukidi.blogspot.com/2026/10/integrasi-transportasi-jadi-kunci.html
